Follow by Email

Minggu, 18 Maret 2012

Genthong Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi


Renovasi : ini adalah foto Masjid Agung Lamongan saat ini yang sedang direnovasi
Lamongan-(18/3) Genthong atau Genuk (bahasa orang lamongan) merupakan sebutan untuk sebuah tempat penyimpanan air bersih, berasal dari tanah liat yang dibentuk menyerupai guci,namun ukurannya lebih besar . Genthong ,biasanya diletakkan di dapur pada rumah-rumah untuk memasak,dan diletakkan di samping atau di depan Masjid atau Mushallah untuk berwudhu pada masyarakat tradisional.

Genthong :  salah satu dari dua genthong yang ada di Masjid Agung Lamongan
Namun,bagaimana dengan genthong yang berada di masjid agung Lamongan? Ternyata,di Masjid Agung Lamongan terdapat dua genthong yang diletakkan di kedua sisi gapura pintu masuk Masjid. Tak banyak yang tahu tentang keberadaan,apalagi fungsi dari kedua genthong tersebut. Saya saja, yang waktu SMP hingga SMA setiap bulan Ramadhan sering mengikuti kegiatan pondok Ramadhan di Masjid Agung ini,tidak pernah tahu jika di masjid Agung Lamongan terdapat dua genthong yang begitu berharga dan bersejarah untuk kota kelahiran saya. Bahkan,baru akhir-akhir ini ,saya baru mengetahui keberadaan dan asal-usul dari kedua genthong tersebut.
Menurut penjaga masjid dan beberapa orang tua asli Lamongan, yang ceritanya saya rangkai, genthong tersebut mempunyai sejarah yang berhubungan erat dengan adat dan kebudayaan bahwa orang Lamongan yang tidak boleh menikah dengan orang asli Kediri,dan pihak wanita , yang harus harus melamar pihak pria.dan beginilah kisah singkatnya ...
Pada saat itu, perang saudara mengakibatkan Majapahit menjadi sebuah kerajaan yang tak punya wibawa lagi di negeri-negeri bawahannya. Karena keadaan ini, Adipati Kediri saat itu merasa bahwa inilah saatnya bagi Kediri sebagai kerajaan yang lebih tua untuk mengambil alih kekuasaan dari Majapahit.
Oleh karena itu,Adipati Kediri berpikir untuk bisa menjalin hubungan dengan wilayah-wilayah yang ada di pesisir utara Jawa. Hingga dia mendengar kabar bahwa Bupati Lamongan saat itu, mempunyai dua orang putra kembar yang bernama Panji Laras dan Panji Liris. Karena diapun mempunyai dua orang putri kembar yang bernama Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi, maka dia berniat menikahkan kedua putri kembarnya dengan kedua putra kembar Bupati Lamongan sekaligus sebagai langkah awal untuk melakukan koalisi, sehingga bila dia bisa melakukan koalisi dengan Lamongan maka Majapahit bisa dikepung dari dua arah yaitu Kediri di Selatan dan Lamongan di Utara.

Mengetahui niat dari Adipati Kediri tersebut, Bupati Lamongan merasa bimbang antara mau menerima ataukah menolak rencana pernikahan politis tersebut. Oleh karena itu, Bupati Lamongan mengajukan tiga syarat. Pertama, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi harus mau memeluk Islam. Kedua, pihak keluarga mempelai wanita lah yang harus datang melamar kepada pihak keluarga mempelai pria. Ketiga, nantinya pihak mempelai perempuan harus datang dengan membawa hadiah berupa gentong air dan alas tikar yang kedua-duanya harus terbuat dari batu.
Ternyata Adipati Kediri masih bersedia untuk memenuhinya dan menyuruh kedua putrinya untuk datang melamar ke Lamongan, sehingga mau tak mau Bupati Lamongan akhirnya bersedia untuk melaksanakan pernikahan tersebut.
Tiba pada harinya, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi diiringi dengan rombongan besar orang-orang Kediri datang ke Lamongan. Panji Laras dan Panji Liris di temani Ki Patih Mbah Sabilan diperintahkan oleh ayahnya untuk menjemput kedua putri Kediri tersebut di batas Kota Lamongan.
Pada saat itu Lamongan sedang mengalami bencana banjir, sehingga mau tak mau Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi mengangkat kainnya sampai ke paha agar kainnya tidak basah. Namun, karena hal itu Panji Laras dan Panji Liris bisa melihat bahwa ternyata kaki Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi ternyata berbulu lebat seperti bulu kuda. Sehingga Panji Laras dan Panji Liris menolak untuk menikahi Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi serta meminta agar rencana pernikahan tersebut dibatalkan saja.
Mendengar hal tersebut sontak Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi merasa terhina dan malu hingga mereka melakukan bunuh diri saat itu juga dihadapan Panji Laras dan Panji Liris. Melihat junjungan mereka dihina dan dipermalukan sampai bunuh diri, orang-orang Kediri  akhirnya menjadi sangat marah dan membunuh Panji Laras dan Panji Liris. Perang pun tidak dapat dihindarkan lagi. Hingga masuk dalam kadipaten Lamongan dan menggugurkan bupati Lamongan pada saat itu. Namun sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Bupati Lamongan sempat berpesan agar nanti anak cucunya tidak boleh menikah dengan orang Kediri ”.

Begitulah cerita singkatnya. Hingga saat ini, air dalam genthong masih ada,dan tidak pernah habis,meskipun tidak ada yang mengisinya. Dan menurut mitos , kota Lamongan yang memang terkenal sebagai kota banjir, jika banjir tersebut melewati batas hingga mulut genthong,maka Lamongan tengah terkena banjir bandhang dan akan menewaskan seluruh warga Lamongan. Untuk peletakannya ,mengapa genthong tersebut diletakkan di masjid Agung kota ? Mungkin saja pada saat itu,genthong disimpan pada tempat yang aman dan dekat dengan pendopo . Karena Lamongan merupakan salah satu kota bertatanan Macapat ( Alon-alon ditengah kota, dikelilingi oleh bangunan Rumah Sakit, Penjara, Pasar, Pendopo dan Masjid Agung). (VET)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar